puisi untuk mengenang saudara kita,WS rendra
karya:Taufiq Ismail
Aku disambar berita halilintar
kamis malam ketika malam belum kelam
di sini,Di Rumah Puisi
Diantara Gunung Merapi dan Gunung Singgalang
Sampailah berita seorang sahabatku yang berpulang
WS Rendra
Dia Penyair,Dramawan,Aktor,Sutradara
Seniman,Budayawan,Kritikus Masyarakat,
Seorang yang sangat cinta pada Manusia
Pada bangsanya
Seorang yang tak bisa melihat
Salah urus dan penindasan
Dia tak perduli walau untuk itu dia masuk tahanan.
Willy,
Telah 48 tahun persahabatan
Sejak 1961 kita berteman,berdebat,bertukar fikiran
Bertengkar,menggunting,menjahit dan dan menambal zaman
Pergi ke sana dan ke mari,panjang sudah perjalanan
Kaki langit ternyata jauh dalam jangkauan
Apa yang selalu sandal kita rasa dalam injakan?
Peluh,air mata,daki,kemarau,angin dan taufan.
Willy,
Pada suatu hari cucuku Aidan dan Rania berkata,
Datuk,tolong pilihkan dari Eyang Rendra,
Puisai cintanya
Saya memandang cucu-cucu saya
Pilihanmu untuk puisi-puisi cinta pada Eyang Rendra
Alangkah tepatnya
Dengarkan,ini satu berjudul'Stanza'
Datuk bacakan:
'Ada burung dua,jantan dan betina
hinggap di dahan.
Ada daun dua,tidak jantan tidak betina
gugur di dahan.
Ada
Di ruang gawat darurat,rumah sakit ini
Bersama Amak Baldjun dan Yose Rizal Manua
Kau telentang di tempat tidur
Jarum infus di tangan
Kau tidak boleh banyak bicara
Tapi Willy,kau gembira sekali
Banyak bicara begitu begini
Tentang penyakit dari jantung pindah ke ginjal
Kau sebenarnya tak boleh banyak bicara
Tapi siapa yang bisa mencegahmnu bicara
Akhirnya aku ajak kita berdoa bersama
Sementara berdoa kita menangis pula
Siapa yang bisa mencegah titiknya air mata
Selesai berdoa aku dan Ati permisi pergi
Kita berpelukan dan bertangisan
Sampai di ujung tempat tidur kau panggil kami
'Fiq jangan pergi,jangan pergi.'
Aku kembali,doa kita ulangi lagi
Air mata makin bercucuran
Rupanya itulah pelukan penghabisan
Dua puluh empat hari kemudian
Engkau pergi memenuhi panggilan
Willy
Perjalanan kau terakhir seindah-indah perjalanan
Di hari Nisfu Sya'ban menjelang Ramadhan
Penuh barokah bacaan Quran
Di malam Jumi'at kau berangkat
Besoknya,sesudah selesai jamaah bersholat Jumi'at
Betapa banyaknya orang-orang yang berduka
Di Cipayung mengantarkan kau ke pemakaman
Bahkan inilah kehormatan luar biasa
Kepergian kau ke alam baka
Tanpa rencana jadilah ia upacara
Betapa dalam hikmah yang sebenarnya
Dapatkah tertangkap oleh mata yang fana
Selamat jalan sahabat,
Selamat jalan Juru Bicara Artistik kami
Urusan Kau bukan semata-mata keindahan estetika
Tapi jauh lebih dari itu
Seperti yang kau tulis tujh tahun yang lalu
Dalam sajakmu'Doa untuk anak cucu'
'Ya Allah
Kami dengan cemas menunggu
Kedatangan burung dara
Yang membawa ranting zaitun
Di kaki Bianglala leluhur kami bersujud dan berdoa
Isinya persis seperti doaku ini
Lindungilah anak cucuku
Lindungilah daya hidup mereka
Lindungilah daya cipta mereka
Ya Allah satu-satunya Tuhan kami
Sumber dari hidup kami ini
Kuasa yang tanpa tandingan
Tempat tumpuan dan gantungan
Tak ada samanya
Di seluruh semesta raya
Allah! Allah!Allah!Allah!
sebenarnya ada
ratapanku dalam rengkuhan maut
................sepi.
kenapa dia menungguku?apa salahku?
...............ngeri.
kenapa dia menugguku?apa maunya?
izrail pun tersenyum menjawab untuk orang-orang pilihan:
dan tegas setengah marah pada para pelanggar:
Tuhan menunggumu kembali membawa
oleh-oleh yang baik untukNya
padahal hamba-hamba itu diberi bekal melimpah dalam hidupnya
kenapa surga saja tidak dapat ?
saling bertanya saling menyangkal
sungguh sia -sia
sekiranya
diri ini
mengabaikan keberadaan izrail di sekelilingnya
yang terus tanpa lelah menasihati:
"KAMU AKAN MATI"
Si Kecil"
(persembahan untuk hati tiap orangtua)
Kenapa sembunyi?
kau bukan gaib
keriputmu...
lukisan perjuanganmu
yang bangkitkan tulang belulang
dengan basah siraman darah
disertai siulan detak nadi
yang terlindung urat-urat
Diam mu juga bisu mu
hanya lengkingan yang tak berbunyi
tapi cukup melengkapi satu guratan
yang menyanyat si kecil
Dari apa si kecil terbuat?
jika dari baja...
pastilah tembus semua dindingnya
Dia menciptanya tanpa sepengetahuanmu
dan kau gunakan sebagai pelunak nafsu
yang segan menang
karena iklas mengalah
Ludah itu kotor
tanpa sungkan...
kau sucikan dengan sabar
dengan keriputmu
dengan rambut putihmu
dan dengan...
lemah raga ’tuk kuatkan si kecil
Si kecilmu...
terlalu besar untuk kehidupanmu
untuk kesepianmu
Bagiku...
si kecilmu itu
ialah pelengkap satu kata terakhir
yang menambal si kecilku
hingga tampak berani
dalam mengungkap anyir buruk ku
hingga tetes air mataku mengalir
jatuh di kain lusuhmu
disertai maaf untuk si kecilmu
Tak perlu sembunyi
kau bukan gaib
si kecilmu mengeluh karena sakit
lisankan bibirmu
tegur aku
karena aku anakmu
yang cuma malu
malu bermulut ayu
melisankan maaf selalu
tapi sungguh...
aku layu tanpamu

